Tampilkan postingan dengan label Meracik Obat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Meracik Obat. Tampilkan semua postingan

25 Oktober 2010

Formulasi Tablet

I.1 Definisi

Tablet adalah sediaan bentuk padat yang mengandung substansi obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatannya, dapat diklasifikasikan sebagai tablet atau tablet kompresi. (USP 26, Hal 2406)

Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa. (FI IV, Hal 4)

Read More..

10 Desember 2009

Hydrophyl Lipophyl Balance (HLB)

Setiap jenis emulgator memiliki harga keseimbangan yang besarnya tidak sama. Harga keseimbangan itu dikenal dengan istilah H.L.B. (Hydrophyl Lipophyl Balance) yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara kelompok lipofil dengan kelompok hidrofil.
Semakin besar harga HLB berarti semakin banyak kelompok yang suka pada air, itu artinya emulgator tersebut lebih mudah larut dalam air dan demikian sebaliknya.
Dalam tabel dibawah dapat dilihat kegunaan suatu emulgator ditinjau dari harga HLB-nya.



HARGA HLB K E G U N A A N
1 - 3 Anti foaming agent
4 – 6 Emulgator tipe w/o
7 – 9 Bahan pembasah ( wetting agent)
8 – 18 Emulgator tipe o/w
13 - 15 Detergent
10 – 18 Kelarutan (solubilizing agent)

Untuk menentukan komposisi campuran emulgator sesuai dengan nilai HLB yang dikehendaki, dapat dilakukan dengan contoh perhitungan berikut ini.

Rumus I
A % b = ((x - HLB b)/ HLB a - HLB b) x 100 %

B % a = ( 100% - A%)

Keterangan :
x = Harga HLB yang diminta ( HLB Butuh)
A = Harga HLB tinggi
B = Harga HLB rendah

Rumus II
(B1 x HLB1) + (B2 x HLB2) = (B campuran x HLB campuran)


Cara Aligasi

Tween 80 (15) (X – 4,5)

X

Span 80 (4,5) (15 – X)

(X – 4,5) : (15 – X) = 70 : 30 = 7 : 3
(X – 4,5) 3 = 7 (15 – X)
3X – 13,5 = 105 – 7X
10X = 118,5
X = 11,85

Jadi HLB Campuran = 11,85


Read More..

Sediaan Farmasi Aerosol

Menurut FI.ed.IV, sediaan aerosol adalah sediaan yang dikemas di bawah tekanan, mengandung zat aktif terapetik yang dilepas pada saat sistem katup yang sesuai ditekan. Sediaan ini digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit dan juga pemakaian lokal pada hidung (aerosol nasal) , mulut (aerosol lingual) atau paru-paru (aerosol inhalasi, ukuran partikelnya harus lebih kecil dari 10 m , sering disebut "inhaler dosis terukur").

Istilah "aerosol" digunakan untuk sediaan semprotan kabut tipis dari sistem bertekanan tinggi. Sering disalah artikan pada semua jenis sediaan bertekanan, sebagian diantaranya melepaskan busa atau cairan setengah padat.
Aerosol busa adalah emulsi yang mengandung satu atau lebih zat aktif, surfaktan, cairan mengandung air atau tidak mengandung air dan propelan. Jika propelan berada dalam fase internal (misalnya m/a) akan menghasilkan busa stabil, dan jika propelan berada dalam fase eksternal (misalnya a/m), akan menghasilkan busa yang kurang stabil.
Dalam literatur lain, aerosol adalah suatu sistem koloid lipofob (hidrofil), dimana fase eksternalnya berupa gas atau campuran gas dan fase internalnya berupa partikel zat cair yang terbagi sangat halus atau partikel-partikelnya tidak padat, ukuran partikel tersebut lebih kecil dari 50 m. Jika partikel internalnya terdiri dari partikel zat cair, sistem koloid itu berupa asap atau debu

Keuntungan Pemakaian Aerosol
1. Mudah digunakan dan sedikit kontak dengan tangan.
2. Bahaya kontaminasi tidak ada, karena wadah tertutup kedap.
3. Iritasi yang disebabkan pemakaian topikal berkurang.
4. Takaran yang dikehendaki dapat diatur
5. Bentuk semprotan dapat diatur.

Jenis/Sistem Aerosol
1. Sistem dua fase (gas dan cair)
Terdiri dari larutan zat aktif dalam propelan cair dan propelan bentuk uap, sebagai pelarut digunakan etanol, propilen glikol dan PEG untuk menambah kelarutan zat aktif. Aerosol sistem dua fase wadahnya berisi :
a. Fase gas dan fase cair
b. Fase gas dan fase padat untuk aerosol serbuk.

Fase cair dapat terdiri dari komponen zat aktif/campuran zat aktif dan propelan cair/komponen propelan yang dilarutkan didalamnya, termasuk sistem ini antara lain :
a. Aerosol ruang (space sprays) : insektisida, deodorant.
b. Aerosol pelapis permukaan (surface coating sprays) : cat, hair sprays
Aerosol sistem dua fase ini beroperasi pada tekanan 30-40 p.s.i.g (pounds per square in gauge) pada suhu 21o.

2. Sistem tiga fase (gas, cair dan padat atau cair).
Terdiri dari suspensi atau emulsi zat aktif, propelan cair dan uap propelan. Suspensi terdiri dari zat aktif yang dapat didispersikan dalam sistem propelan dengan zat tambahan yang sesuai seperti zat pembasah dan atau bahan pembawa padat seperti talk atau silika koloidal.


Read More..

08 Juli 2009

Sejarah Awal Farmasi

Sejarah farmasi pada zaman keemasan Islam dikenal dengan istilah saydanah sebagai sebuah profesi yang awalnya agak asing dalam dunia kedokteran. Pada abad ke-9, dunia Arab dan Islam telah berhasil membangun jembatan ilmu yang menghubungkan antara sumbangan Yunani dengan dunia farmasi modern sekarang ini. Ilmu kefarmasian yang diperoleh dari peradaban Yunani khususnya terus ditingkatkan dan usaha ini diteruskan hingga ke abad ke-13 melalui berbagai karya, terjemahan ataupun peningkatan ilmu pada zaman-zaman berikutnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, farmasi dipraktekkan secara terpisah dari profesi medis yang lain. Puncak sumbangan dunia Arab-Islam dalam farmasi dicapai dengan siapnya satu panduan praktikum farmasi pada tahun 1260. 

Lebih lengkapnya anda dapat membaca A History of Islam Pharmacy.

Read More..

01 Juli 2009

Secundum Artem

Secundum Artem merupakan sumber informasi tentang teknik dan prosedur pengerjaan resep yang disusun Paddock Laboratory dalam bentuk sediaan non steril dan steril, tradisional dan teknologi modern, yang dirancang untuk ahli farmasi, atau mahasiswa yang belajar ilmu farmasi dengan tujuan untuk mendapatkan resep yang rasional.


Untuk mendapatkan informasi ini anda dapat mengunduh disini:


Compounding Oral Liquids


Compounding Topical Dosage Forms: Ointments, Creams, Pastes and Lotions


Preparation of Oral Suspensions and Syrups: Basic Concepts


Pharmaceutical Compounding Calculations

Read More..

23 Juni 2009

Sediaan Steril

Sediaan farmasi steril dibuat untuk menghindari terjadinya pertumbuhan mikroba, sehingga sediaan tersebut bebas dari mikroba. Sediaan steril ini umumnya dibuat untuk bentuk sediaan injeksi, larutan infus, tetes mata, yang semuanya berhubungan dengan cairan tubuh.

Sediaan pulveres adspersorius atau bedak tabur juga termasuk sediaan yang mesti steril untuk menghindarkan penggunaan sediaan yang malah menginduksi penyebaran kuman.


Pembahasan sediaan injeksi, anda dapat mengunduh
[klik disini]


Pembahasan cara-cara sterilisasi, anda dapat mengunduh
[klik disini]


Pembahasan sediaan larutan infus, anda dapat mengunduh
[klik disini]

Read More..

14 Juni 2009

Contoh-contoh Resep

Pada postingan terdahulu sudah dibahas bagaimana cara dan teknik dasar pengerjaan resep bentuk sediaan serbuk, cair, dan juga semipadat. Nah untuk lebih memahami teknik pengerjaan resep tersebut ada contoh-contoh resep yang dapat dipelajari lebih lanjut.


Contoh-contoh resep ----> klik
disini


Rangkuman resep standar yang diambil dari buku standar Formularium Nasional, ISO, dan Formularium Indonesia ----> klik
disini

Read More..

30 Mei 2009

Teknik Dasar Pembuatan Potio

Potio atau sirup obat yang diminum dalam pembuatannya pada praformulasi umumnya dilakukan hal-hal berikut :

Melarutkan zat aktif dilarutkan dahulu sesuai kelarutannya, kelarutan zat dapat dilihat pada buku standar Farmakope Indonesia III atau FI IV.

Bila zat aktif tidak larut, maka perlu dibuat suspensi, pensuspensi yang umum digunakan : 
Carboxy Methyl Celullose (CMC) 0,5 – 2 % b/v (umumnya 1%), perlakuan terhadap CMC dengan cara ditabur di atas air panas (dua puluh kalinya).
Pulvis Gummosus (PGS) 1%, biasanya untuk bahan obat yang kurang berkhasiat keras.
Pulvis Gummosus (PGS) 2%, biasanya untuk bahan obat yang berkhasiat keras.

Bila sirup mengandung bahan minyak, maka sediaan dibuat emulsi, misalnya:
- Minyak ikan (dipakai Pulvis Gummi Arababicum (PGA) 30% dari berat minyak).
- Minyak jarak (dipakai PGA 1/3 kali berat minyak).
- Parafin cair : sebaiknya dipakai PGA ½ kali jumlahnya, dibuat corpus dulu, baru ditambahkan            parafin sedikit-sedikit.

SASA (solutio)
- Jika ada sirup, ditimbang ke dalam sirup, sambil diaduk-aduk.
- Jika tidak ada sirup, ditambahkan terakhir ke dalam botol, sambil dikocok.
- Succus : digerus dengan air panas secukupnya, jangan terlalu banyak, sulit menggerusnya.
- Tingtur atau Ekstrak cair : diencerkan dengan air secukupnya, atau langsung dimasukkan ke dalam    botol sidikit-sedikit sambil dikocok.
- Ekstrak kental : diencerkan dengan air hangat secukupnya.
- Ekstrak Opii; Pantopon : ditaburkan di atas air sama banyak, diamkan 15 menit, gerus encerkan.
- Iulapium : Iulapium Rubrum (sirup Rhoeados), Iulapium Fuscum (sirup Aurantii) dan Iulapium Album  (sirupus simplex).
- Sirup quantum satis (q.s) : jika bahan obat keras diambil 10% (dalam gram), jika obat keras harus ditanyakan jumlahnya.
- Saccharum album = gula : kalau diganti dengan sirupus simplex = 100/65 x jumlah gula 
- Sirup : berfungsi menstabilkan “corpus” (suspensi atau emulsi), ditambahkan ke dalam corpus sebelum diencerkan dengan air.
- Jika ada pembasah (wetting agent) : bahan yang tidak larut digerus dulu dengan pembasah, baru digerus dengan zat pensuspensi.
Contoh zat pembasah : Gliserol, Propilen Glikol, Sorbitol, Tween.
- Arsen trioksida : diganti dengan solutio Kalii arsenitis sebanyak 100 kalinya.


Read More..

Teknik Dasar Pembuatan Salep

Pada pembuatan salep bila ada bahan obat berupa serbuk, umumnya dikerjakan seperti pada pembuatan pulvis/pulveres. Tambahkan basis salep sama banyaknya, gerus sampai homogen, tambahkan sisa basis, gerus sampai homogen.  Bila dalam salep mengandung bahan-bahan obat tertentu, pengambilan bahan dilakukan dan diambil dengan cara berikut ini :

• Acid Boric : ambil pulveratum.
• Zinci Oxydum : digerus dengan basis panas (basisi dilelehkan, atau mortir dan stamper dipanaskan.
• Cera, Parafin, Cetaceum : dileburkan dengan basis lainnya, dinginkan sambil diaduk-aduk.
• Lanolin : ¾ bagian adepslanae dan ¼ bagian air.
• Balsam Peru, Ichtyol : ditambahkan terakhir.
• Krisarobin : dilarutkan dengan cara dileburkan bersama basis.
• Minyak ikan : tidak boleh terkena panas (karena Vitamin A dan Vitamin D di dalamnya akan rusak))
• Protargol : ditaburkan di atas air sama banyak, diamkan 15 menit di tempat gelap, gerus sampai homogen, ditambahkan ke dalam basis salep, gerus sampai homogen.
• Salep Gondopuro (Formularium Nasional) : semua bahan dimasukkan ke dalam pot salep (dari bahan gelas), dileburkan sambil ditutup rapat, dinginkan sambil digoyang-goyang.


Read More..

23 Mei 2009

Teknik Dasar Pembuatan Serbuk Obat (Pulvis dan Pulveres)

Serbuk obat disebut juga puyer dapat dibagi menjadi serbuk terbagi (Latin: Pulveres) dan serbuk tidak terbagi (Latin: Pulvis). Pembuatannya secara umum dapat dijelaskan berikut ini :

  • Mulai dari yang kasar, jika bahan yang kasar tersebut keras, harus digerus dahulu sampai halus, baru digerus dengan yang lain. Jika semua bahan halus, digerus dari dua bahan yang paling sedikit.
  • Bahan yang sangat sedikit digerus dalam mortir yang dialasi terlebih dahulu SL (Saccharum Lactis) untuk obat dalam atau bahan yang lainnya dan Talk atau Kaolin untuk obat luar.
  • Bila resep mengandung bahan Camphora, Menthol, Thymol, Acid Benzoic, Acid Salicylic : ditetesi etanol (spiritus fortior), kemudian keringkan dengan SL.
    Catatan : Acetosal tidak perlu ditetesi etanol. Campuran eutektik (campuran Camphor dan Menthol atau dengan Thymol) : masing-masing ditetesi etanol, dikeringkan dengan SL, baru dicampurkan.
  • Garam berair kristal : diganti dengan eksikatusnya.
  • Tingtur dan ekstrak cair : bila kurang dari 2 gram : digerus di mortir panas dengan SL sampai kering, sedangkan lebih dari 2 garam : diuapkan sampai seperti tingtur banyak, dapat diuapkan lagi secukupnya sampai kira-kira sama banyak dengan SL-nya.
  • Ekstrak kental : ditetesi etanol dilutum (= etanol 70%), keringkan dengan SL di mortir panas.
  • Sulfur, Stibii Pentasulfida atau Rifampisina (warna merah kuning, susah hilang dari mortir) : digerus diantara bahan tambahan/inert, seperti SL.
  • Bila dalam pulveres ada tablet : tablet digerus halus, baru dicampurkan dengan bahan lain.
    Elaeosacchara : Elaeosacchara Lactis dalam pulveres : terdiri dari 2 gram SL dan 1 tetes minyak atsiri.
  • Obat-obat paten yang di”loco” (diganti) : usulkan penggantiannya, kecuali sudah dianggap sinonim.
  • Dosis Maksimum (DM) lebih dari 80% dan 100% : penimbangan satu per satu, jika diberi paraf dan tanda seru, yang dituliskan tepat dibelakang nama bahannya pada resep.
  • Pengenceran : dengan SL dan Carmin, dengan SVCS tanpa Carmin.
  • Bila mengandung tablet salut : tabletnya ditumbuk halus, kemudian diayak yang halusnya dicampur dengan yang lainnya.


Read More..

22 Mei 2009

Menghitung Dosis Maksimum

Dosis adalah takaran atau jumlah, dosis obat adalah takaran obat yang bila dikelompokkan bisa dibagi :

  1. Dosis Terapi (Therapeutical Dose), yaitu dosis obat yang dapat digunakan untuk terapi atau pengobatan untuk penyembuhan penyakit.
  2. Dosis Maksimum (Maximalis Dose), yaitu dosis maksimal obat atau batas jumlah obat maksimum yang masih dapat digunakan untuk penyembuhan. Dalam buku buku standar seperti Farmakope atau Ekstra Farmakope Dosis Maksimum (DM) tercantum diperuntukkan orang dewasa.
  3. Dosis Lethalis (Lethal Dose), yaitu dosis atau jumlah obat yang dapat mematikan bila dikonsumsi. Bila mencapai dosis ini orang yang mengkonsumsi akan over dosis (OD)

Cara Menghitung Dosis Maksimum Obat Dalam Resep

a. DM tercantum berlaku untuk orang dewasa, bila resep mengandung obat yang ber-DM, tanyakan      umurnya.
b. Bila ada zat yang bekerja searah, harus dihitung DM searah (dosis ganda)
c. Urutan melihat daftar DM berdasarkan Farmakope Indonesia edisi terakhir (FI. Ed.III, Ekstra    Farmakope, FI. Ed.I, Pharm. Internasional, Ph. Ned. Ed. V, CMN dan lain-lain).
d. Setelah diketahui umur pasien, kalau dewasa langsung dihitung, yaitu untuk sekali minum : jumlah  dalam satu takaran dibagi dosis sekali dikali 100%.
 Begitu juga untuk sehari minum : jumlah sehari dibagi dosis sehari dikali 100%.
e. Dosis Maksimum (DM) searah : dihitung untuk sekali dan sehari.
f. Cara menghitung Dosis Maksimum (DM) untuk oral berdasarkan :
     i). Rumus Young 
         Untuk umur 1-8 tahun dengan rumus :
         (n/n + 12) x DM (dewasa)          n = umur dalam tahun 
 
     ii). Rumus Dilling
         Untuk umur di atas 8 tahun dengan rumus :
         (n/20) x DM                             n = umur dalam tahun 
 

    iii). Rumus Fried
         (n/150) x DM                            n = umur bayi dalam bulan 
 

    iv). Bila dalam berat badan

         Rumus Clark 
         (Berat badan dalam kilogram) / 70 kg  x DM (dewasa)
 

by Joey

Read More..

Obat Tidak Tercampurkan

Obat Tidak Tercampurkan, mahasiswa farmasi lebih suka menyingkat dengan O.T.T obat tidak tercampurkan. Padanan katanya kalau dalam bahasa Inggris kira-kira sama dengan Incompatible atau Incompatibility sehingga bisa juga di Indonesiakan menjadi inkompatibel. Maksudnya bila dua atau lebih obat dicampurkan akan saling mempengaruhi obat tersebut, obat tersebut bisa rusak, atau dalam penggunaannya dalam tubuh mungkin efeknya akan salaing meniadakan, sinergis atau ataupun mungkin antagonis.

Bila dikelompokkan OTT ini secara umum adalah :

OTT Secara Fisik :

Serbuk harus diserahkan dalam keadaan kering, tidak boleh basah.
Misal dalam R/ ada campuran camphora dan menthol, maka serbuk akan basah. Cara mengatasinya : masing-masing dicampur dulu dengan zat “inert” baru keduanya dicampur.

OTT Secara Kimia :
Terjadi reaksi kimiawi, misalnya pada tetes mata yang mengandung argentum proteinikum dan cocain hidrochlorida, akan terjadi endapan, maka diusulkan salah satu dikeluarkan.

OTT Secara Farmakologi :
Ada dua atau lebih efek yang saling bertentangan (antagonis), maka salah satu diusulkan untuk dikeluarkan, kecuali resep standar misal dalam R/ ada luminal dan kafein :
a. Harus ditanyakan kepada dokter yang menulis resep itu, atau usul, bila :
1. Khasiatnya berubah
2. Bila obat itu tercampur akan terbentuk zat-zat lain yang lebih beracun
3. Secara farmakologis tidak tersatukan, misal dalam satu resep mengandung luminal (sedativum) dan coffeinum (stimulansia), harus ditanyakan apakah salah satu dikeluarkan atau memang dokter menghendaki demikian.
b. Tidak usah ditanyakan kepada dokter, cukup dibuat secara “lege artis”, misalnya dalam pembuatan serbuk menjadi basah bila dicampur (misalnya camphora dan menthol).


Read More..

Pengenceran Padat dan Cair Dalam Resep

Pengenceran bahan dalam mengerjakan resep biasanya kalau bahan obat yang akan ditimbang kurang dari 50 mg, karena penimbangan bi bawah 50 mg kurang akurat maka dilakukan pengenceran supaya bahan obat yang jumlahnya kecil dosisnya dapat tetap dijaga.

Misalnya bila dalam resep kita hendak menimbang Diazepam 20 mg.

Timbang Diazepam 50 mg, bisa ditambahkan zat warna sedikit (untuk melihat kehomogenan campuran obat nanti), seperti carmin, ditambah saccharum lactis 2.450 mg. Dalam mortir, gerus saccharum lactis sebagian, tambahkan Diazepam, zat warna (carmin), gerus hingga homogen (warna merah merata), tambahkan sisa saccharum lactis sedikit demi sedikit sambil digerus sampai homogen. Dari campuran ini ditimbang = 1.000 mg
  Untuk Diazepam 20 mg = 20/50 x 2.500 mg
  = 1.000 mg
Dari campuran 1.000 mg ini mengandung 20 mg Diazepam dari hasil pengenceran Diazepam dalam saccharum lactis ini yaitu 1.000 mg (1:50).
Pegngenceran bisa dilakukan dengan perbandingan 10 kali, 30 kali, 50 kali. Hasil pengenceran dari serbuk ini sebaiknya paling sedikit 200 mg.

Pengenceran untuk obat dalam sediaan cair :
Sebaiknya diencerkan dalam pelarut yang sesuai atau pembawa lainnya seperti air bila pembawanya air sebagai pelarut. Misal menimbang Vitamin B1 (Thiamin HCl) 10 mg. Vitamin B1 ini larut dalam air, jadi timbang Vitamin B1 sebanyak 50 mg, dilarutkan dalam air hingga 10 mL.
Untuk 10 mg Vitamin B1, diambil dari campuran larutan sebanyak :
  10/50 x 10 mL = 2 mL
  Jadi dalam campuran 2 mL ini mengandung 10 mg Vitamin B1 hasil pengenceran dengan perbandingan   = 1 : 200.


Read More..

Singkatan yang Sering Dijumpai Dalam Resep

1. S. bdd. Cth 1 = S.2 dd cth 1 = Signa bis de die cochlear theae 1
  = bid. = bis in die
  = Sehari 2 x 1 sendok teh

2. S. tdd c 1 = S. 3 dd c 1 = signa ter de dic cochlear
  = sehari 3 x1 sendok makan 

3. S.4 dd p 1 = signa quarter de die pulvis 1
  = sehari 4 x 1 bungkus

4. S.5 dd p II = sigma quinquis de die pulpvis I
  = sehari 6 x 1 bungkus

5. S.6 dd pI = signa sexies de die pulvis I
  = sehari 6 x 1 bungkus

6. S. bid p I = signe bis in die pulvis II ante coenam
  = sehari 2 x 2 bungkus sebelum makan

7 S. o. h. cth = sigma omni hora cochlear
  = tiap jam satu sendo teh

8. s. o. b. c I = s. o 2 hc = sigma omni bihorio cochlear
  = tiap 2 jam satu sendok makan.

9. s. o tr.. h. c I = s. o 3 hc = sigma omni thrihorib cochlear
  = tiap 3 jam satu sendok makan

10. s.o. 4 h. c I = sigma omnibus quattuor horis cochlear
  = tiap 4 jam satu sendok makan

11. s.o.5 h. c I = omnibus quinque horis cochlear 
  = tiap 5 jam 1 sendokl makan

12. s. 3 – 4 dd loz I = sigma 3-4 de die lozenges I
  = sehari 3-4 kali 1 tablet hisap

13. s.o.s applic = sie opus sit appilcandum
  = dipakai bila perlu

14. s.n.s = sigma nas sic = jika perlu

15. s.h. s CI = sigma hora somni cochlear I
  = pada waktu hendak tidur 1 sendok makan

16. s.em.et v gtt II as = sigma mane et vespere guttae II auris sinistra
  = pagi dan malam masing-masing 2 tetes pada kuping kiri/ telinga  
  ad = augris dextaa = kuping kanan/ telinga kanan
  m = mane = pagi hari
  v = vespere = malam hari

17.s.m supp I = tiap pagi 1 buah

18 s.v. applic = digunakan malam hari

19. s.3 dd p II ½ hpc = sigma terde die pulpis II ½ hora post coenam
  = sehari 3 x 2 bungkus setengah jam sesudah makan

20. s. mix. Agitanda = campuran kocok

21. S.u.c =sigma usus cognitus = pemakain diketahui
22. s.u.n = sigma usus notus = pemakaian diketahui
23. s. u e = sigma usus externus = pemakain luar
24. m.d.e pulv. ads = misce da signa pulv adspersorius
  = campurlah, serahkan dan tandailah serbuk tabur/ bedak tabur

25. s.p. r. n = sigma pro renata = kadang-kadang, apabila perlu
26. d.t.d = desis da tales dosis
  = berikanlah dengan takaran sebanyak itu.

27. d.i.d = da in dim = da in dimido = berilah ½ nya
28. da pars tertia = dibuat 1/3 nya
29. das pars quarta = dibuat ¼ nya
30. da pars quinta = dibuat 1/5 nya
31 da pars sexta = dibuat 1/6 nya
32. da in duplo/ d.i.2plo = dibuat 2 kalinya

33. da in triplo/ di. 3 plo = dibuat 3 kalinya  
34. a, aa = ana = masing-masing
35. add = adde = tambahkan
36. s. haust. = signa haustus = diminum sekaligus habis
  - hand lotion = lotio untuk tangan
  - gargarisma = obat kumur sampai ke tengorokan
  - Colutio oris = collutorium = obat kumur / cuci mulut
  - Acne cream = kream jerawat
  - Linimentum/ lin = obat gosok
  - Rhino guttae = obat tetes hidung
  - naristillae = obat semprot/cuci hidung

Read More..

17 Maret 2009

Salep

A. Pengertian Salep
Menurut FI. IV, salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Salep tidak boleh berbau tengik. Kecuali dinyatakan lain kadar bahan obat dalam salep yang mengandung obat keras atau narkotika adalah 10 %. 

B. Penggolongan Salep

(1) Menurut konsistensinya salep dibagi menjadi :

(a) Unguenta : adalah salep yang mempunyai konsistensi seperti mentega, tidak mencair pada suhu biasa tetapi mudah dioleskan tanpa memakai tenaga.
(b) Cream : adalah salep yang banyak mengandung air, mudah diserap kulit. Suatu tipe yang dapat dicuci dengan air.
(c) Pasta : adalah suatu salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat (serbuk). Suatu salep tebal karena merupakan penutup atau pelindung bagian kulit yang diberi.
(d) Cerata : adalah suatu salep berlemak yang mengandung persentase tinggi lilin (waxes), sehingga konsistensinya lebih keras.
(e) Gelones Spumae : (Jelly) adalah suatu salep yang lebih halus. Umumnya cair dan mengandung sedikit atau tanpa lilin digunakan terutama pada membran mukosa sebagai pelicin atau basis. Biasanya terdiri dari campuran sederhana minyak dan lemak dengan titik lebur yang rendah.

(2) Menurut Efek Terapinya, salep dibagi atas : 
a. Salep Epidermic (Salep Penutup)
Digunakan pada permukaan kulit yang berfungsi hanya untuk melindungi kulit dan menghasilkan efek lokal, karena bahan obat tidak diabsorbsi. Kadang-kadang ditambahkan antiseptik, astringen untuk meredakan rangsangan. Dasar salep yang terbaik adalah senyawa hidrokarbon (vaselin).

b. Salep Endodermic
Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam tetapi tidak melalui kulit dan terabsorbsi sebagian. Untuk melunakkan kulit atau selaput lendir diberi lokal iritan. Dasar salep yang baik adalah minyak lemak.

c. Salep Diadermic (Salep Serap).
Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam melalui kulit dan mencapai efek yang diinginkan karena diabsorbsi seluruhnya, misalnya pada salep yang mengandung senyawa Mercuri, Iodida, Belladonnae. Dasar salep yang baik adalah adeps lanae dan oleum cacao.

(3) Menurut Dasar Salepnya, salep dibagi atas : 
(a) Salep hydrophobic yaitu salep-salep dengan bahan dasar berlemak, misalnya: campuran dari lemak-lemak, minyak lemak, malam yang tak tercuci dengan air.

(b) Salep hydrophillic yaitu salep yang kuat menarik air, biasanya dasar salep tipe o/w atau seperti dasar hydrophobic tetapi konsistensinya lebih lembek, kemungkinan juga tipe w/o antara lain campuran sterol dan petrolatum.

C. Dasar Salep

Menurut FI. IV, dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok, yaitu dasar salep senyawa hidrokarbon, dasar salep serap, dasar salep yang dapat dicuci dengan air, dasar salep larut dalam air. Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep tersebut.

1). Dasar Salep Hidrokarbon 
Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak, antara lain vaselin putih dan salep putih. Hanya sejumlah kecil komponen berair yang dapat dicampurkan kedalamnya. Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. Dasar salep hidrokarbon digunakan terutama sebagai emolien, sukar dicuci, tidak mengering dan tidak tampak berubah dalam waktu lama. 

2). Dasar Salep Serap
Dasar salep serap ini dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok pertama terdiri atas dasar salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak (parafin hidrofilik dan lanolin anhidrat), dan kelompok kedua terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan (lanolin). Dasar salep ini juga berfungsi sebagai emolien.

3). Dasar Salep yang dapat dicuci dengan air.
Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air, antara lain salep hidrofilik (krim). Dasar salep ini dinyatakan juga sebagai dapat dicuci dengan air, karena mudah dicuci dari kulit atau dilap basah sehingga lebih dapat diterima untuk dasar kosmetika. Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih efektif menggunakan dasar salep ini dari pada dasar salep hidrokarbon. Keuntungan lain dari dasar salep ini adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang terjadi pada kelainan dermatologik.

4). Dasar Salep Larut Dalam Air 
Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air. 
Dasar salep jenis ini memberikan banyak keuntungannya seperti dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan tak larut dalam air, seperti paraffin, lanolin anhidrat atau malam. Dasar salep ini lebih tepat disebut gel.

 Pemilihan dasar salep tergantung pada beberapa faktor yaitu khasiat yang diinginkan, sifat bahan obat yang dicampurkan, ketersediaan hayati, stabilitas dan ketahanan sediaan jadi. Dalam beberapa hal perlu menggunakan dasar salep yang kurang ideal untuk mendapatkan stabilitas yang diinginkan. Misalnya obat-obat yang cepat terhidrolisis, lebih stabil dalam dasar salep hidrokarbon daripada dasar salep yang mengandung air, meskipun obat tersebut bekerja lebih efektif dalam dasar salep yang mangandung air.

Beberapa contoh – contoh dasar salep :
1 Dasar salep hidrokarbon Vaselin putih ( = white petrolatum = whitwe soft paraffin), vaselin kuning (=yellow petrolatum = yellow soft paraffin), campuran vaselin dengan cera, paraffin cair, paraffin padat, minyak nabati.

2 Dasar salep serap 
(dasar salep absorbsi) Adeps lanae, unguentum simpleks (cera flava : oleum sesami = 30 : 70), hydrophilic petrolatum ( vaselin alba : cera alba : stearyl alkohol : kolesterol = 86 : 8 : 3 : 3 )

3 Dasar salep dapat 
dicuci dengan air Dasar salep emulsi tipe m/a (seperti vanishing cream), emulsifying ointment B.P., emulsifying wax, hydrophilic ointment.

4 Dasar salep larut air Poly Ethylen Glycol (PEG), campuran PEG, tragacanth, gummi arabicum

Kualitas dasar salep yang baik adalah:
1. Stabil, selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas, tidak terpengaruh oleh suhu dan kelembaban kamar.
2. Lunak, semua zat yang ada dalam salep harus dalam keadaan halus, dan seluruh produk harus lunak dan homogen.
3. Mudah dipakai
4. Dasar salep yang cocok
5. Dapat terdistribusi merata

(Sumber Buku Ilmu Resep Depkes)

Read More..

08 Februari 2009

Obat Sinergis


1. Pulvis opii, pulvis opii compositus, Extr. Opii, tinc. Opii crocata, tinc opii, tinc opii benzoica, pantopan, opialum, Hydrocloras – Mhorpin, Dilaudid, vinum opii cromaticum, dholatin ( pethidin ), metdhon, syropus opiatus, Syropus opii dilitus.

2. Follia Belladone, Feliia Starmonii, Folia Hyoscyami, dan tinctur-tinctur, serta ekstrak yang dibuat dari obat-obat tersebut, Sulfas Atropin, Novatropium, Emydrinum, Hydrobromas homatropini Extr. Bellad, Scop Hbr.

3. Foliia Digitalis, Tinctura digitalis, Liquor digitalis da. Usu Internum en Ad injectionum, Digalen, Digitexinum, digoxinum, Acetum, digitalis, Semen Strophati, Strophantium Crystalicatum, Bulbus Scillae, Acetum Scillae, Scillaren, Herba Consalarriae majalis.

4. Cremine, Cardiazol, Herba lobiliale, Tinctur lobileale, Chompora, caffenium, citras coffine, benzoas natricus dan Salisilas natricus cum coffieno, fasta guarana, semen cola Extractum cola mliquidum

5. Follia coca hydrocloras cocaine, extr. Coca liquidum, tinctura coca, vinum coca, Novacainum, butacaine, pentocaine, tutocaine Percaine, alypine, stovaine, orthoform.

6. Coffinum, citra coffeini, benzoas natricus dan salysilas natricus, cum coffiine.
Semen cola. Extr. Cola liquidum, fasta guarana, theobrominum, thephylinum,
Eupylinum, mersalyl, novurit, novasurol, urem, diuretinum,
Calsium diuretine, agurin, bulbus scillae.

7. urothrophine, borovortino, helmitol, seliformin, cylotropino
cystopurine, amphortrhopine, hexylresorciunum.

8 semen strychni, nitras strychni, tinctur strychni, extr. Strychni, syrup cola compositus, thebainum, 
pixrotoxinum.

9 Antypirinum , phyramidon, migrainine, melubrine, phenasetin, salipirin, acetanilidum, salopheen.

10 Sulponall, trional,tetronal hydraschlorali, hydras amylinucus, paraldehidum, veronal, luminal, 
rutonal, evivan, somnifer, dial, allonal, phanandorm, prominal, soneryl, pernocton, nembuta, 
amytal, diphantonium, bromural, adaline, champora monobromata.

11 Codenium dan garam-garamnya, sirupus codeini, dionium, dicodid, acedikon, eucodal, bandingkan 
dengan 1 )

12 Scale cornutum, extr. Secalis cornuti, extr. Secalis cornutiliquidum, tint. Secalis cornuti, 
ergometrine, extr. Hydrastis liquidum, dan siccum, separtein.

13 Hydrocloras emeitin, radix ipecacuanchae dan tinctures ipechacuanha hydrochloric apomhorpini, 
tetras calico stibylicus. 

14 Solute nitroglycerine, nitric acthylicus cum spirits, nitris amillicus dan nitrt-nitrit organik dan anorganik 
yang lain, extr. Visci albi, khelline, acidum nichotinicum , Benzedrine, rhizome veratri viridi.

15 Adrenalium, ephedrinum, benzerdrine, pervitine, syneprine.
16 Fructus colocynthidis, extr, cholocynthidis, resina phodopilli, gummi gutti, oleum crotonis.

17 Flores cinae, santoninum, extr filicis, cortex granati, extr. Granti. Oleum chenophydii, tetra 
chloretum carbonicum.

18 Acidum arsenicum, liquor fowleri, arsenas natricus.

19 Kreosotum, guaiacolum, carbonas creosoti, carbonas guaiacoli, sololum, tymolum, phenolum, 
resorsinum, salophen, neptholun.

20 Pilocarpinum, physostigmin dan garam-garamnya, benzoas benzylicus, novacainum, cyclospasmol.

21 Papaverine dan garam-garamnya, ampprotropine, benzoas benzylicus, novacainum, cyclospasol.

22 Benadryl, antistin, penergan, thephorine, antalegran.

(Sumber  : Van Duin, FB V, etc)

Read More..

06 Februari 2009

Persiapan Meracik Obat

I.1 PERSIAPAN
1. Pertama-tama harus memperhatikan alat-alat yang akan dipakai, seperti:
Lumpang (mortir), stamper, cawan, gelas ukur, gelas piala (beaker glass) dan timbangan harus bersih.
2. Bacalah resep yang akan dikerjakan dengan cermat dan teliti. Apakah kelengkapan resep sudah memenuhi syarat, sesuai dengan peraturan yang berlaku? (Formularium Nasional, ISO, IIMS, Farmakope Belanda)? Apakah ada yang perlu diganti atau disesuaikan untuk memperkerjakannya? Hal ini semua perlu sekali diperhatikan jangan sampai salah.

I.2 PENIMBANGAN
Penimbangan dalam mengerjakan resep ini dipakai alat timbangan bertangan panjang dengan beberapa macam daya timbang. Timbangan harus dalam keadaan setimbang (balance), bila tidak setimbang maka harus disetimbangkan dengan :
a. Diusahakan dengan mengatur tombol pengatur kesetimbangan, dengan menggeser-geserkan ke dalam maupun ke luar. Bila dengan tombol pengatur kesetimbangan tidak bisa, karena di luar kepekaan timbangan, maka perlu ditambahkan pembeban timbangan (dengan peluru senapan angin/mimis, kelereng kecil atau potongan bekas kemasan pasta gigi) yang telah dibungkus rapih.
b. Bisa juga penambahan pembebanan pada anak timbangan itu sendiri atau ditempelkan di bawah piring timbangan yang tentunya disimpan serapih mungkin jangan sampai mengganggu.


Ada tiga jenis alat timbangan :
1. Timbangan gram kasar : mempunyai daya beban antara 250 gram sampai 1.000 gram, dengan kepekaan 200 mg.
2. Timbangan gram halus : mempunyai daya beban 100 gram sampai 200 gram, dengan kepekaan 50 mg. 
3. Timbangan miligram : mempunyai daya beban 10 sampai 50 gram dengan kepekaan 5 mg.
 Yang dimaksud dengan daya beban timbangan adalah bobot maksimum yang boleh ditimbang, sedangkan kepekaan adalah tambahan bobot maksimum yang diperlukan pada salah satu piring timbangan setelah keduanya diisi muatan maksimum menyebabkan ayunan jarum timbangan tidak kurang dari 2 mm dari tiap dm panjang jarum.
 Bobot terkecil yang boleh ditimbang dengan timbangan gram adalah satu gram, sedangkan bobot terkecil yang boleh ditimbang dengan timbangan miligram adalah 50 miligram.
 Bila bahan obat yang harus ditimbang bobotnya kurang dari 50 miligram, maka penimbangannya dilakukan dengan pengenceran. Sebagai pengencer biasanya digunakan bahan yang bersifat “inert” atau netral, seperti saccharum laktis (lactosum) untuk bahan obat berupa serbuk, sedangkan air atau larutan untuk bahan yang berupa cairan (sediaan cair). Sebagai bahan pengencer dapat digunakan bahan lainnya tergantung dari basis atau pembawa sediaaan yang akan dibuat.
 Cara penempatan anak timbangan dan bahan obat sebagai berikut : anak timbangan ditempatkan pada sebelah kiri piring timbangan, sedangkan bahan obat ditempatkan pada piring timbangan sebelah kanan (untuk memudahkan manambah atau mengurangi bahan obat bila kurang atau lebih).

Cara menimbang bahan obat :
1. Zat padat atau serbuk : terlebih dahulu piring timbangan baik di sebelah kiri maupun kanan diberi alas dengan kertas timbangan (perkamen) yang sama ukurannya. Kemudian anak timbangan disimpan di sebelah kiri piring timbangan dengan bantuan pinset kecil dan bahan obat disimpan di sebelah kanan dengan bantuan spatel.
2. Ekstrak kental : ditimbang pada kertas parafin (perkamen yang telah diolesi parafin cair), dengan spatel dimasukkan ke dalam mortir.
3. Zat cair/ekstrak cair : ditimbang dalm krus (kui) kalau sedikit bisa dengan cawan petri atau kaca arloji yang telah ditara.

 Cara menara cawan atau botol : dilakukan pada piring timbangan sebelah kiri atau sebelah kanan setelah wadahnya disimpan pada piring timbangan diatur kesetimbangannya dengan menempelkan penyetara seperti peluru mimis, kelereng kecil atau potongan bekas pasta gigi (odol). Setelah setimbang baru dimasukkan bahan obat yang akan ditimbang. 
 Istilah menara biasanya dipakai untuk mengukur dalam satuan gram (berat), sedangkan istilah mengkalibrasi biasa dipakai untuk mengukur dalam satuan volume (mililiter). Misalnya : akan membuat obat batuk dengan volume 100 mL, pertama kali kita harus mempersiapkan botol yang volumenya lebih besar dari 100 mL (jangan terlalu penuh, diberi ruangan udara untuk mengocok obat). Kemudian dengan memasukkan air ke dalam botol sebanyak 100 mL dan batas volume tersebut ditandai (bisa dengan spidol atau menempelkan selotif atau label) dan apabila obat telah dimasukkan ke dalam botol tanda-tanda tersebut bisa dihapus kembali.
 Dalam menuang cairan dari botol bahan obat untuk diambil sesuai dengan kebutuhan, letak etiket pada botol harus di atas, hal ini untuk menghindari pengotoran etiket.


Read More..

04 Februari 2009

Seni Meracik Obat

Ilmu resep adalah ilmu yang mempelajari tentang cara penyediaan obat-obatan menjadi bentuk tertentu hingga siap digunakan sebagai obat. Ada anggapan bahwa ilmu ini mengandung sedikit kesenian, maka dapat dikatakan bahwa ilmu resep adalah ilmu yang mempelajari seni meracik obat (art of drug compounding), terutama ditujukan untuk melayani resep dari dokter.

Penyediaan obat-obatan disini mengandung arti pengumpulan, pengenalan, pengawetan dan pembakuan dari bahan obat-obatan. Melihat ruang lingkup dunia farmasi yang cukup luas, maka mudah dipahami bahwa ilmu resep tidak dapat berdiri sendiri tanpa kerja sama yang baik dengan cabang ilmu yang lain, seperti fisika, kimia, biologi dan farmakologi.

Pada waktu seseorang mulai terjun masuk kedalam pendidikan kefarmasian berarti dia mulai mempersiapkan dirinya untuk melayani masyarakat dalam hal :
• Memenuhi kebutuhan obat-obatan yang aman dan bermutu.
• Pengaturan dan pengawasan distribusi obat-obatan yang beredar di masyarakat.
• Meningkatkan peranan dalam bidang penyelidikan dan pengembangan obat-obatan.

Mempelajari resep berarti mempelajari penyediaan obat-obatan untuk kebutuhan si sakit. Seseorang akan sakit bila mendapatkan serangan dari bibit penyakit, sedangkan bibit tersebut telah ada semenjak diturunkannya manusia pertama.

Kata "Ars Praescribendi" berasal dari Bahasa Latin katanya menurut pengertian harfiah adalah seni meracik obat. Bahkan organisasi kemahasiswaan farmasi ITB berani menamakan dirinya "Ars Praeparandi", yang artinya katanya yaa seni meracik obat itu dengan pemberian simbol Mata Uza yang katanya juga (red. maklum baru sedikit ilmunya) penggambaran Dewa Pengobatan Bangsa Mesir Kuno?? (red. bener gak ya, klo salah mohon dikoreksi). Prof. Nanizar Zaman Yoenoes juga menulis bukunya dengan judul yang sama Ars Prescribendi, Resep Yang Rasional yang menginspirasi untuk mengangkat judul yang sama, karena kebutuhan akan referensi meracik obat.

Nah dalam blog ini saya akan coba membahas bagaimana sebenarnya "Ars Praescribendi" seni meracik obat tersebut. Mudah-mudahan dapat membantu rekan sejawat yang berkecimpung dalam dunia kesehatan, dokter, farmasis, asisten apoteker, mahasiswa kedokteran, mahasiswa farmasi, siswa sekolah asisten apoteker, dan rekan-rekan peminat dalam dunia kefarmasian.

Read More..

Sebelum keluar kasih komentar dulu ya...

Powered By Blogger

Nyari Komisi Gretongan Disini Nih

Primary Education Blogs - BlogCatalog Blog Directory Add to Technorati Favorites
widgets Share/Save/Bookmark online counter

  © Blogger templates 'Neuronic' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP